Senin, 14 November 2011

ISLAM DI AMERIKA PASCA TRAGEDI 9 SEPTEMBER


Islam adalah satu agama yang mengalami perkembangan paling pesat di AS. Bahkan pada 2010, umat Islam diperkirakan akan melampaui jumlah kaum Yahudi sebuah kalkulasi yang menurut Washington Times terkadang ditanggapi dengan cemas oleh para pemuka agama lain. Sesaat setelah tragedi 11 September 2001, luapan amarah dan kebencian sempat ditumpahkan kepada orang Islam yang dianggap sebagai pelaku tragedi tersebut. Pada beberapa kasus, umat Islam atau yang dikira Muslim bahkan mendapat gangguan tenor, baik secara fisik mau pun mental.
Di AS hidup 2,5 juta muslim, yang secara umum berintegrasi dengan baik dalam masyarakat. Tetapi, sejak 11 September 2001, sebagian besar dari mereka mengeluhkan bahwa hidup menjadi lebih sulit.[1] Hari-hari penuh ketakutan memang sempat mewarnai kehidupan sehari-hari umat Islam AS, termasuk di Dearborn, Michigan. Dearborn adalah sebuah daerah dengan komunitas warga Arab yang terbesar — sekitar 250 ribu orang — di AS.[2]
Bush dan Blair boleh jadi dua sejoli yang kompak dalam upaya memerangi terorisme yang mereka definisikan sendiri sesuai keinginannya. Terutama menghubungkan teror 11 September dengan kelompok Islam tertentu, khususnya yang mereka sebut sebagai jaringan al-Qaeda.[3]
Serangan 11 Sepetember 2001 ke gedung WTC dan Pentagon adalah bencana bagi Amerika dan umat Muslim sedunia. Pasca serangan, berbagai tudingan dilontarkan kepada Islam dan ummatnya. Banyak serangan-serangan yang terjadi tehadap Muslim Amerika setelah kejadian itu, walaupun ini terbatas pada kelompok minoritas kecil.[4]
Menurut survey yang dilakukan pada 2007, 53% Muslim Amerika menganggap bahwa menjadi lebih sulit menjadi seorang Muslim (di AS) setelah serangan itu.[5] Wanita Muslim yang menggunakan hijab/jilbab diganggu, menyebabkan beberapa wanita Muslim lebih memilih untuk tinggal dirumah, sedangkan yang lainnya untuk sementara meninggalkan praktik (pekerjaan).[6]
Survey Pew mengenai penganut, memperlihatkan bahwa[7] :
Komunitas Muslim Ahmadiyah, organisasi Islam tertua di Amerika Serikat telah mengambil sebuah tindakan dengan menunjukkan kepada masyarakat Amerika makna Islam sebenarnya - tidak hanya dengan kata melainkan tindakan. setelah dua inisiatif telah sukses yaitu "Muslims for Peace" dan "Muslims for Loyality" kembali Komunitas Ahmadiyah meluncurkan sebuah kampanye nasional guna mengenang para korban serangan 11september dengan jalan menyumbangkan darah. inisiatif baru tersebu bernama "Muslims for life".
Muslims for life digagas sebagai upaya untuk menujukkan bahwa islam begitu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan disamping sebagai upaya untuk menjelaskan kesalahpahaman tentang Islam yang beredar.[8]
Imam Syamsi boleh dikatakan tokoh muslim terkemuka di New York. Bukan hanya pada saat tragedi 9/11. Hingga kini dia menjadi imam Masjid Al-Hikmah, masjid yang diresmikan pada 17 Agustus 1997. Masjid ini berdiri, antara lain, atas bantuan Yayasan Muslim Amal Bhakti Pancasila pimpinan mantan Presiden Soeharto almarhum.
Selain itu, Syamsi dipercaya umat muslim New York menjadi imam Masjid Islamic Center, masjid terbesar di kota tersibuk di dunia ini.
Komunitas muslim Afro-Amerika juga menunjuk Syamsi sebagai imam Masjid Jamaica Muslim Center, New York.
Saat genting pada 9 September 2001, Syamsi dinilai paling layak mewakili umat muslim. Para pejabat tinggi Amerika Serikat juga memilih Syamsi sebagai tokoh yang paling pas menjelaskan kepada publik soal Islam dan perang melawan terorisme yang dikumandangkan mantan Presiden George W. Bush setelah gedung kembar WTC runtuh, dan pesawat United Airlines Flight 93 jatuh di Shankville, Pennsylpania, setelah menabrak gedung Pentagon di Arlington, Virginia.
Peran dan “fatwa” Syamsi menjelaskan Islam sebagai agama yang memusuhi terorisme dan aksi-aksi teror. Bagi pemerintah Amerika Serikat, posisi dan “fatwa” Syamsi menjelaskan kepada dunia Islam, Amerika tidak berperang melawan umat muslim, melainkan terorisme, musuh bersama umat manusia, yang juga musuh umat Islam.
Karena itu, hingga kini Syamsi menjadi “juru bicara” umat Islam di Amerika. Menjelang peringatan tragedi 9/11, dia paling sibuk. Termasuk melayani wawancara media terkemuka dari berbagai penjuru dunia. Sabtu malam (10/9) lalu, televisi Al-Jazirah melakukan wawancara khusus dengan tokoh asli asal Indonesia ini terkait dengan 10 tahun peringatan tragedi 9/11. “Alhamdulillah,” katanya.
“Kalau kita lihat sepintas dan jangka pendek, keadaan umat Islam di Amerika setelah 10 tahun tragedi 9/11 sepertinya memburuk,” ujarnya.
Namun, hal itu tidak fundamental. Juga tidak mewakili pandangan masyarakat Amerika yang sesungguhnya terhadap umat Islam. “Islam fobia dan sentimen anti-Islam di Amerika akhir-akhir ini dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar agama. Terutama faktor politik berkaitan dengan Pemilu 2012,” katanya.
Tapi, secara substansial keadaan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan era sebelum tragedi 9/11. Masyarakat Amerika makin terbuka kepada umat Islam dan ajaran Islam. Mereka dengan kesadaran sendiri ingin memahami Islam secara mendalam. “Pascatragedi 9/11, orang yang masuk Islam meningkat empat kali lipat daripada sebelum tragedi 9/11,” katanya. [9]
Dalam survei tahun 2005, seperempat orang Amerika setuju dengan pernyataan berikut: “Muslim mengajar anak-anak mereka untuk membenci kafir,” ” nilai kehidupan Muslim kurang dari orang lain;” dan “agama Islam mengajarkan kekerasan dan kebencian”.
Rahman Kamal yang tinggal di Amerika Serikat selama 32 tahun mengatakan, orang menjadi lebih ingin tahu tentang Islam sejak 11 September.  ”Kami telah melihat orang-orang lebih tertarik (mempelajari Islam) saat ini,” katanya.[10]
          Demikian gambaran tentang perkembangan Islam di Amerika Serikat pasca tragedy serangan teroris 9 September 2001 yang menelan banyak korban. Semoga banyak sekali hikmah yang didapat dari tragedy tersebut, ibarat pepatah “ Sengsara Membawa Nikmat”.
Waallahu a’lam.

[1] http://www.dw-world.de
[3] http://mediaislamnet.com
[4] Muslim Americans: Middle Class and Mostly MainstreamPDF, Pew Research Center, 22 May 2007
[8] http://1artikelislam.blogspot.com/2011/09/

1 komentar:

  1. Hey, there is a broken link in this article, under the anchor text - Muslim Americans: Middle Class and Mostly Mainstream
    Here is the working link so you can replace it - https://selectra.co.uk/sites/selectra.co.uk/files/pdf/pew-muslim-americans.pdf

    BalasHapus