Senin, 10 September 2012

MENGGUGAH NASIONALISME LEWAT OLAHRAGA



(MUHAMMAD SOLICHUN, S.Ag)
 Guru MI Karangasem Susukan Kab. Semarang
Selama ini setiap orang, mungkin berbeda-beda dalam menafsirkan arti nasionalisme. Bahkan setelah kemerdekaan tercapai, menyampaikan rasa nasionalisme pun dengan ekpresi yang beraneka rupa. Ada yang menunjukkannya dengan memasang bendera berukuran besar di halaman rumah, bendera mini di mobil atau motor, bahkan sekadar memasang pita merah putih di kepala.
Nasionalisme jika disederhanakan merupakan suatu bentuk semangat cinta bangsa dan cinta tanah air (pratiotisme). Nasionalisme memiliki berbagai perwujudan sesuai dengan tuntutan zaman. Pada masa revolusi, nasionalisme terwujud dalam upaya menegakkan negara bangsa dengan perperan sebagai tentara dan sukarelawan, sehingga semangat kebangsaan terwujud jelas dengan mengangkat senjata untuk mengusir musuh. Tetapi di masa kemerdekaan, nasionalisme tidak lagi diwujudkan dengan berjuang di medan pertempuran militer, tetapi masing-masing warga secara individual atau kolektif berjuang mengisi kemerdekaan sesuai dengan profesinya agar tujuan negara bangsa yang telah disepakati bersama dapat terwujud.
Sesungguhnya memaknai nasionalisme juga tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang semata. Karena pada dasarnya nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi seorang warga negara terhadap bangsa dan negaranya. Wujud kesetiaan tersebut bermacam-macam, mulai dari penghormatan terhadap pahlawan, mempelajari sejarah, taat pada peraturan, membayar pajak, menjaga kedaulatan bangsa, menyumbangkan prestasi pada event-event lomba internasional dan yang paling sering kita dengar adalah wujud nasionalisme dengan menggunakan produk-produk dalam negeri.
Yang paling menonjol saat sekarang adalah nasionalisme lewat media olahraga, salah satunya cabang sepakbola, dengan munculnya lirik Garuda di dadaku semua anak bangsa dari sabang sampai merauke bisa menyanyikan lagu tersebut. Kerinduan bangkitnya nasionalisme itu pecah di arena olahraga. Jarang terdengar, lagu kebangsaan Indonesia Raya mendadak bergema dari mulut-mulut anak bangsa secara berjamaah. Tidak ada Jawa, tidak ada Sumatera, tidak ada Kalimantan, tidak ada Sulawesi, tidak ada Ambon, tidak ada Papua, yang ada adalah Indonesia. Inilah nasionalisme gaya baru, nasionalisme cara sepakbola. Sejenak kita nikmati kebangkitan nasionalisme yang dipupuk anak-anak bangsa yang membanggakan di lapangan hijau tersebut.
Semoga harapan kita terhadap rasa nasionalisme tidak pudar begitu saja setelah pertandingan bola selesai, dan berharap tumbuh nuansa nasionalisme lain dengan cara yang lain pula tidak hanya dibidang sepakbola saja tapi bisa di semua bidang kehidupan, siapa pun presidennya, siapapun juaranya jika ingin menumbuhkan rasa nasionalisme perlu didukung dengan semangat kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa Indonesia. Kebanggaan Nasionalisme harus dipupuk sejak dini dan mulai ditularkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus kelangsungan bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar